Pages

 

Selasa, 06 Maret 2012

Manfaat Penghijauan

Kondisi pembangunan perumahan yang pesat cenderung untuk tidak mempertimbangkan faktor konservasi lingkungan dengan meminimalkan ruang terbuka hijau. Kondisi demikian menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem perkotaan dengan meningkatnya suhu udara di perkotaan, serta pencemaran udara. Sumber pencemaran udara di kota besar Indonesia terutama disebabkan kegiatan transportasi, permukiman, persampahan dan industri.

Karbon dioksida (CO2) merupakan gas utama penyebab pemanasan global, yang akan berakibat pada perubahan iklim yang menyebabkan banjir dan kekeringan, perubahan ekosistem hutan dan daratan, dan kemudian berpengaruh pada kesehatan manusia. Tahun 1994, 83% peningkatan radiasi gas rumah kaca disebabkan oleh CO2, 15 % CH4 dan sisanya N2O dan CO (Ministry of Environment, 2001). Jumlah emisi CO2 terbesar di Indonesia disebabkan oleh deforestasi dan konversi lahan (74%), diikuti konsumsi energi (23%) dan proses industri (3%). Untuk mengatasi masalah ini,upaya yang dilakukan diantaranya adalah mengurangi konsumsi energi dan mencari energi alternatif yang lebih bersih, pembangunan ruang terbuka hijau, pembangunan permukiman yang berkelanjutan, dan sistem transportasi umum yang ramah lingkungan.

Tanaman mempunyai potensi dan fungsi ekologis menurunkan kadar CO2 pada saat melakukan aktivitas fotosintesis dengan mengubah CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Gas gas diudara akan didifusikan kedalam daun melalui stomata (mulut daun) pada proses fotosintesa atau terdeposisi oleh air hujan kemudian didifusikan oleh akar tanaman. Setiap tumbuhan mempunyai karakteristik yang berbeda dalam mengabsorpsi gas–gas tertentu di udara, sehingga dapat merupakan penyangga yang baik terhadap pencemaran udara.

Fungsi penghijauan di perumahan ditekankan sebagai penyerap CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan (logam berat, debu, belerang), peredam kebisingan, penahan angin dan peningkatan keindahan (PP RI no.63/2002), dengan karakteristik : pohon-pohon dengan perakaran kuat, ranting tidak mudah patah, daun tidak mudah gugur serta pohon-pohon penghasil bunga/buah/biji yang bernilai ekonomis. Adapun faktor faktor yang berpengaruh terhadap potensi reduksi zat pencemar dan umur tanaman adalah jenis tanaman, kerimbunan dan ketinggian tanaman, jumlah emisi karbon, suhu, kecepatan angin, kepadatan dan ketinggian bangunan. Tanaman berdaun banyak akan lebih efektif menyerap polutan diudara dibandingkan tumbuhan berdaun jarang. Sedangkan daun tanpa lapisan lilin, berbulu atau berduripun akan lebih mudah menyerap gas-gas diudara

Adapaun jenis tanaman pereduksi dan tanaman produktif untuk perumahan antara lain

1. Pereduksi CO2
Beringin (ficus benyamina)
Puring (codiaeum interuptum)
Sri rejeki (aglaonema costatum)
Palem kuning (pandanus utiis)
Pisang-pisangan (Heliconia)
Lidah mertua (sanseviera trifaciata-laurentii)
Pandan bali (pandanus utilis)
Puring (codiaeum interuptum)
Sri rejeki (aglaonema costatum)

2. Pereduksi Timah hitam
Mahoni (switenia mahagoni)
Bungur (Lagerstroemia speciosa)

3. Pereduksi Semen /debu
Tanjung (mimusops elengi)
Kiara payung (filicium decipiens)

4. Pereduksi Logam berat
Kenikir (tagetes erecta)
teh-tehan

5. Pereduksi kebisingan
Kenikir(tagetes erecta)
Bamboo Jepang (bambusa japonica)

6. Tanaman buah / produktif
Jambu batu
Jambu air (E.aquaea)
Mangga
Nangka (artocarpus integra)
Papaya
Rambutan
Sawo
Sirsak (annona muritaca)
Sarikaya (annona suqamosa)

sumber: walhi Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar